قَالَ ٱلْمَلَأُ مِن قَوْمِ فِرْعَوْنَ إِنَّ هَـٰذَا لَسَـٰحِرٌ عَلِيمٌ
Qālal-mala'u min qaumi fir‘auna inna hāżā lasāḥirum ‘alīm(un).
Para pemuka kaum Fir‘aun berkata, “Sesungguhnya orang ini benar-benar penyihir yang sangat pandai.
Tempat Tertinggi · 2 ayat (109–110 dari 206)
قَالَ ٱلْمَلَأُ مِن قَوْمِ فِرْعَوْنَ إِنَّ هَـٰذَا لَسَـٰحِرٌ عَلِيمٌ
Qālal-mala'u min qaumi fir‘auna inna hāżā lasāḥirum ‘alīm(un).
Para pemuka kaum Fir‘aun berkata, “Sesungguhnya orang ini benar-benar penyihir yang sangat pandai.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa setelah para pembesar kaum Firaun menyaksikan mukjizat yang diperlihatkan Nabi Musa kepada mereka, hati nurani mereka tidak beriman, bahkan mereka menuduh Nabi Musa telah melakukan sihir. Mereka menganggap bahwa perubahan tongkat Nabi Musa menjadi ular besar yang mereka saksikan, sama halnya dengan apa yang dapat diperbuat oleh ahli-ahli sihir yang terkenal di masa itu.
Sihir dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Sihir yang menggunakan benda-benda alam tertentu, yang diperlakukan sedemikian rupa dengan cara-cara tertentu pula, yang hanya diketahui oleh ahli-ahli sihir sendiri, sehingga menghasilkan efek (kesan) yang sangat menakjubkan bagi masyarakat yang alam pikirnya masih primitif (bersahaja).
2. Sihir yang didasarkan pada kecepatan tangan, dalam menyembunyikan dan menampakkan benda-benda tertentu, sehingga kelihatan lain bentuk dan rupanya dari keadaan yang sebenarnya. Hal ini sama dengan permainan sulap pada masa kita sekarang.
3. Sihir yang berdasarkan ilmu hipnotis, yaitu mempengaruhi jiwa yang lemah oleh orang-orang yang memiliki jiwa yang kuat. Dan kadang-kadang mereka mempergunakan pengaruh jin, sehingga membuahkan perbuatan yang manakutkan dan membuat orang histeris, seperti permainan jailangkung, dan sebagainya.
Sumber: Tafsir Kementerian Agama RI melalui EQuran.id. Buka halaman ayat 109
يُرِيدُ أَن يُخْرِجَكُم مِّنْ أَرْضِكُمْۖ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ
Yurīdu ay yukhrijakum min arḍikum, fa māżā ta'murūn(a).
Dia hendak mengusir kamu dari negerimu.” (Fir‘aun berkata,) “Maka, apa saran kamu?”
Dalam ayat ini diterangkan bahwa para pembesar Firaun menghasut Firaun dengan menyatakan kepadanya, bahwa Musa adalah orang yang mempunyai pengetahuan dan bermaksud jahat, yaitu hendak merebut kekuasaan dari tangan Firaun dan mengusirnya bersama pengikutnya dari negeri Mesir. Hasutan ini berhasil, sehingga Firaun bertanya kepada mereka tentang apa yang akan mereka lakukan kepada Musa.
Di dalam kisah Nabi Musa yang terdapat dalam Surah Yunus diterangkan pula ucapan pemesar-pembesar Firaun kepada Nabi Musa sebagai berikut:
"Mereka berkata: "Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa (kepercayaan) yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya (menyembah berhala), dan agar kamu berdua mempunyai kekuasaan di bumi (negeri Mesir)? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua". (Yunus/10:78)
Sumber: Tafsir Kementerian Agama RI melalui EQuran.id. Buka halaman ayat 110
Pengulangan dimatikan.