فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَـٰغِرِينَ
Fa gulibū hunālika wanqalabū ṣāgirīn(a).
Mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.
Tempat Tertinggi · 2 ayat (119–120 dari 206)
فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَـٰغِرِينَ
Fa gulibū hunālika wanqalabū ṣāgirīn(a).
Mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa pesihir itu telah dikalahkan di tempat itu, dan jadilah mereka orang-orang yang hina dina. Artinya bila sebelum peristiwa itu, para pesihir merasa bangga percaya diri secara berlebihan, maka setelah kekalahan itu tersingkaplah kebohongan dan kepalsuan mereka, karena sihir mereka tidak mempunyai kekuatan sama sekali. Di samping itu, karena kekalahan tersebut, sirnalah sudah harapan mereka untuk mendapatkan harta benda, pangkat dan kekayaan yang tadinya telah dijanjikan Firaun kepada mereka.
Kekalahan para pesihir tersebut berarti kekalahan Firaun dan para pembesarnya. Pada mulanya mereka percaya bahwa para pesihir yang terpandai yang mereka kumpulkan dari berbagai tempat dalam wilayah kekuasaannya, dengan mudah dapat mengalahkan Nabi Musa. Karena itu ia mengobral janji, tetapi ternyata para pesihirnya itu mengalami kekalahan, dan Nabi Musa mendapat kemenangan, maka pudarlah harapan Firaun dan pemuka-pemukanya untuk dapat mempertahankan kebesaran dan kekuasaannya. Hilanglah kehebatan mereka di mata orang banyak, dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Apalagi peristiwa tersebut terjadi pada salah satu hari raya mereka dan tidak disaksikan orang banyak. Mengenai ini Allah berfirman dalam ayat lain:
Dia (Musa) berkata, "(Perjanjian) waktu (untuk pertemuan kami dengan kamu itu) ialah pada hari raya dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada pagi hari (dhuha)." (thaha/20: 59)
Sumber: Tafsir Kementerian Agama RI melalui EQuran.id. Buka halaman ayat 119
وَأُلْقِىَ ٱلسَّحَرَةُ سَـٰجِدِينَ
Wa ulqiyas-saḥaratu sājidīn(a).
Para penyihir itu tersungkur dalam keadaan sujud.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa setelah melihat kehebatan mukjizat Nabi Musa, maka para pesihir, serta merta bersujud kepada Allah, karena mereka yakin tentang kebenaran seruan Nabi Musa, dan ia bukan pesihir seperti yang mereka duga sebelumnya, sesuai dengan tuduhan Firaun dan para pembesarnya. Selain itu, mereka menyadari bahwa sihir mereka yang dibangga-banggakan selama ini hanyalah kebatilan dan tidak berdaya bila berhadapan dengan kebenaran yang datang dari Allah Yang Maha Kuasa. Mereka sudah tidak mempunyai rasa hormat sedikit pun kepada Firaun dan para pembesarnya yang telah berusaha dengan segala daya upaya untuk mengingkari kekuasaan dan kebesaran Allah, Pencipta dan Penguasa alam semesta.
Mengenai bersujudnya para pesihir tersebut, Allah menerangkannya dalam ayat yang lain sebagai berikut:
Lalu para pesihir itu merunduk bersujud, seraya berkata, "Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa." (thaha/20:70)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
Maka menyungkurlah para pesihir itu, bersujud, mereka berkata, "Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam". (asy-Syuara/26:46-47)
Sumber: Tafsir Kementerian Agama RI melalui EQuran.id. Buka halaman ayat 120
Pengulangan dimatikan.