وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
Wa rabbaka fakabbir.
Tuhanmu, agungkanlah!
Orang Berselimut · 2 ayat (3–4 dari 56)
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ
Wa rabbaka fakabbir.
Tuhanmu, agungkanlah!
Ayat ini memerintahkan agar Nabi Muhammad mengagungkan Allah dengan bertakbir dan menyerahkan segala urusan kepada kehendak-Nya. Beliau dilarang mencari pertolongan selain kepada-Nya.
Mengagungkan Allah dengan segenap jiwa dan raga tentu menumbuhkan kepribadian yang tangguh dan tidak mudah goyah. Sebab, manusia yang beriman memandang bahwa tidak ada yang ditakuti selain Allah. Sikap ini perlu dihayati oleh seorang dai (juru dakwah) yang tugasnya sehari-hari mengajak manusia ke jalan Allah.
Ayat ini juga mengandung arti bahwa Nabi Muhammad diperintahkan supaya bertakbir yaitu membesarkan nama Tuhan-Nya, melebihi dari segala sesuatu yang ada. Sebab setelah manusia mengenal pencipta alam dan dirinya sendiri serta yakin bahwa pencipta itu memang ada, maka hendaklah dia membersihkan zat-Nya dari segala tandingan-Nya. Bila tidak demikian, orang musyrik pun mengagungkan nama tuhan mereka, akan tetapi keagungan yang berserikat dengan zat-zat lain.
Membesarkan Allah berarti mengagungkan-Nya dalam ucapan dan perbuatan, menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya, beribadah dan membersihkan zat-Nya dari segala yang dipersekutukan dengan-Nya, dan menggantungkan harapan kepada-Nya saja. Kalau unsur-unsur yang demikian dipenuhi dalam membesarkan Allah, barulah sempurna penghayatan iman bagi seorang mukmin.
Sumber: Tafsir Kementerian Agama RI melalui EQuran.id. Buka halaman ayat 3
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
Wa ṡiyābaka faṭahhir.
Pakaianmu, bersihkanlah!
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya membersihkan pakaian. Makna membersihkan pakaian menurut sebagian ahli tafsir adalah:
1.Membersihkan pakaian dari segala najis dan kotoran, karena bersuci dengan maksud beribadah hukumnya wajib, dan selain beribadah hukumnya sunah. Membersihkan di sini juga termasuk cara memperolehnya, yaitu pakaian yang digunakan harus diperoleh dengan cara yang halal. Ketika Ibnu 'Abbas ditanya orang tentang maksud ayat ini, beliau menjawab bahwa firman Allah tersebut berarti larangan memakai pakaian untuk perbuatan dosa dan penipuan. Jadi menyucikan pakaian adalah membersihkannya dari najis dan kotoran. Pengertian yang lebih luas lagi, yakni membersihkan tempat tinggal dan lingkungan hidup dari segala bentuk kotoran, sampah, dan lain-lain, sebab dalam pakaian, tubuh, dan lingkungan yang kotor banyak terdapat dosa. Sebaliknya dengan membersihkan badan, tempat tinggal, dan lain-lain berarti berusaha menjauhkan diri dari dosa. Demikianlah para ulama Syafi'iyah mewajibkan membersihkan pakaian dari najis bagi orang yang hendak salat. Begitulah Islam mengharuskan para pengikutnya untuk selalu hidup bersih, karena kebersihan jasmani mengangkat manusia kepada akhlak yang mulia.
2.Membersihkan pakaian berarti membersihkan rohani dari segala watak dan sifat-sifat tercela. Khusus buat Nabi Muhammad, ayat ini memerintahkan beliau menyucikan nilai-nilai nubuwwah (kenabian) yang dipikulnya dari segala yang mengotorinya (dengki, dendam, pemarah, dan lain-lain). Pengertian kedua ini bersifat kiasan (majazi), dan memang dalam bahasa Arab kadang-kadang menyindir orang yang tidak menepati janji dengan memakai perkataan, "Dia suka mengotori baju (pakaian)-nya," Sedangkan kalau orang yang suka menepati janji selalu dipuji dengan ucapan, "Dia suka membersihkan baju (pakaian)-nya."
Secara singkat, ayat ini memerintahkan agar membersihkan diri, pakaian, dan lingkungan dari segala najis, kotoran, sampah, dan lain-lain. Di samping itu juga berarti perintah memelihara kesucian dan kehormatan pribadi dari segala perangai yang tercela.
Sumber: Tafsir Kementerian Agama RI melalui EQuran.id. Buka halaman ayat 4
Pengulangan dimatikan.