وَلَئِن مُّتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لَإِلَى ٱللَّهِ تُحْشَرُونَ
Wa la'im muttum au qutiltum la'ilallāhi tuḥsyarūn(a).
Sungguh, jika kamu mati atau gugur, pastilah kepada Allah kamu dikumpulkan.
Keluarga Imran · 2 ayat (158–159 dari 200)
وَلَئِن مُّتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لَإِلَى ٱللَّهِ تُحْشَرُونَ
Wa la'im muttum au qutiltum la'ilallāhi tuḥsyarūn(a).
Sungguh, jika kamu mati atau gugur, pastilah kepada Allah kamu dikumpulkan.
Semua orang akan mati atau gugur dengan sebab apa saja, baik karena meninggal di dalam peperangan dalam bepergian atau di tempatnya sendiri. Mereka pasti akan dikembalikan kepada Allah dan akan diperhitungkan segala amal perbuatannya di akhirat nanti. Kalau jahat dibalas dengan siksa neraka dan kalau baik dibalas dengan masuk surga.
Oleh karena itu orang mukmin hendaklah memilih dan menempuh jalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah, agar memperoleh ampunan dan rahmat-Nya. Untuk itu, janganlah seorang Muslim merasa enggan berjihad di jalan Allah, untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Sumber: Tafsir Kementerian Agama RI melalui EQuran.id. Buka halaman ayat 158
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Fabimā raḥmatim minallāhi linta lahum, wa lau kunta faẓẓan galīẓal-qalbi lanfaḍḍū min ḥaulik(a), fa‘fu ‘anhum wastagfir lahum wa syāwirhum fil-amr(i), fa iżā ‘azamta fa tawakkal ‘alallāh(i), innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn(a).
Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
Meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin dalam Perang Uhud sehingga menyebabkan kaum Muslimin menderita, tetapi Rasulullah tetap bersikap lemah lembut dan tidak marah terhadap para pelanggar itu, bahkan memaafkannya, dan memohonkan ampunan dari Allah untuk mereka. Andaikata Nabi Muhammad saw bersikap keras, berhati kasar tentulah mereka akan menjauhkan diri dari beliau.
Di samping itu Nabi Muhammad saw selalu bermusyawarah dengan mereka dalam segala hal, apalagi dalam urusan peperangan. Oleh karena itu kaum Muslimin patuh melaksanakan keputusan-keputusan musyawarah itu karena keputusan itu merupakan keputusan mereka sendiri bersama Nabi. Mereka tetap berjuang dan berjihad di jalan Allah dengan tekad yang bulat tanpa menghiraukan bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi. Mereka bertawakal sepenuhnya kepada Allah, karena tidak ada yang dapat membela kaum Muslimin selain Allah.
Sumber: Tafsir Kementerian Agama RI melalui EQuran.id. Buka halaman ayat 159
Pengulangan dimatikan.